Arti EC Pada Insektisida Pestisida (Penjelasan Lengkap)

Arti EC Pada Insektisida Pestisida

Saat sobat Artikeloka.com memilih obat-obatan kimia untuk tanaman, Anda akan menjumpai kode EC, SC, WP, dan sebagainya. Dalam hal ini Anda mungkin masih bingung apa arti kode EC pada pestisida?

Dalam artikel ini Anda akan mendapat jawabannya yang mana EC adalah akronim dari Emulsifiable Concentrate. Secara sederhananya, pengertian EC adalah formulasi berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan.

Tentang Formulasi Pestisida

Masing-masing dari bahan aktif pestisida punya daya larut yang beragam dan karakteristik daya larut serta target pasar adalah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan produsen pestisida dalam memformulasikan suatu bahan aktif menjadai produk jadi yang siap diedarkan ke pasar.

Setiap jenis formulasi suatu produk tentunya bepengaruh terhadap cara penerapannya dan juga memiliki pengaruh pada tata cara metode pencampuran pestisida.

Terdapat sebuah produk dengan merk dagang yang sama yang diproduksi oleh perusahaan yang sama, dijual dengan formulasi yang berbeda. Contoh produk tersebut misalnya Regent 50 SC, Regent 80 WG dan Regent 0,3 GR.

Lantaran punya formulasi yang berbeda, maka dalam hal ini tentu cara pengaplikasiannya juga berbeda satu sama lain.

Pada kemasan produk pestisida atau produk ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) biasanya terdapat nama bahan aktif yang terkandung didalamnya. Selain itu, terdapat juga kode-kode tertentu yang ada didalam merek kemasan seperti misalnya Confidor 3 GR pada Furadan 400 SL pada Manuver 2,5 EC pada Decis dan kode yang lainnya.

Secara garis besarnya, formulasi pestisida terbagi menjadi dua bentuk, yakni:

  1. Formulasi Cair
  2. dan Formulsi Padat

Guna dapat memahami berbagai macam formulasi pestisida, Anda perlu mengetahui sejumlah istilah kimia sebagaimana dijelaskan dibawah ini, termasuk arti EC pestisida adalah sebagaimana dirangkum berikut ini:

  • Larutan/Solution: Yaitu suatu larutan yang dihasilkan ketika suatu benda dilarutkan dalam cairan. Komponen pembentuk larutan tidak dapat dipisahkan secara mekanis. Usai larutan terbentuk dengan cara diaduk, komponennya tidak akan memisah, tidak perlu pengadukan lagi agar tetap menjadi larutan. Contoh yang sering kita jumpai adalah memasukan gula ke dalam air, lalu diaduk, maka akan menjadi suatu larutan. Formulasi solution ini biasanya terlihat transparan.
  • Suspensi/Suspension: Suspensi adalah campuran yang mudah dipisahkan yang mana didalamnya terdapat partikel padat yang menyebar dalam cairan. Partikel padat tersebut tidak bisa terlarut, sehingga perlu pengadukan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga partikel tersebut bisa menyebar merata dalam cairan. Oleh sebab itu, terkadang produk pestisida yang formulasinya berbentuk suspensi, tertulis dalam kemasanya “kocok dulu sebelum digunakan”. Formulasi suspension ini pada umumnya akan terlihat berwarna “keruh”.
  • Emulsi/Emulsion: Emulsi terjadi manakal suatu cairan yang berbentuk butiran ter-dispersi atau menyebar dalam larutan lainnya. Tidak perlu dilakukan pengadukan terlalu lama agar emulsi tidak memisah. Pestisida berbentuk emulsi, bahan aktifnya dilarutkan terlebih dahulu dengan pelarut berbasis minyak, lalu ditambah dengan pengemulsi, sehingga ketika dicampur dengan air untuk disemprotkan akan terbentuk emulsi. Formulasi emulsion biasanya terlihat seperti cairan seperti susu.
  Bokeh 2017 Pantip Video Full Movie

Arti Kode EC Pada Pestisida

Untuk mengetahui apa saja formulasi yang digunakan pada produk pestisida, termasuk EC dan SC, berikut ini penjelasan ringkasnya:

Formulasi Pestisida Berbentuk Cair

  • EC (Emulsifiable Concentrate): Merupakan formulasi dengan bentuk pekatan yang dapat diemulsikan. Kandungan bahan aktif dalam pestisida atau ZPT jenis ini hanya larut di dalam minyak, agar mudah digunakan, pestisida ditambahkan bahan emulsi (pencampur minyak) oleh produsen, sehingga bahan aktif yang hanya larut dalam minyak bisa juga larut di dalam air, membentuk larutan seperti susu saat dicampur dengan air, sifatnya stabil saat dicampur air, sehingga tidak perlu diaduk terus menerus selama penggunaan. Adapun contoh produknya antara lain adalah CRIPTAN 250 EC, CRONUS 18 EC , CROSS 100 EC, CROWEN 113 EC, dan sebagainya.
  • SC (Suspension Concentrate) dan WSC (Water Soluble Concentrate): Formulasi SC dan WSC menyerupai EC, namun menggunakan solvent berbasis air, jadi jika dicampur dengan air tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk suspensi. Formulasi ini diaplikasikan dengan cara disemprotkan menggunakan alat sprayer. Contoh produk SC ini diantaranya adalah CULTAR 250 SC, ENTIBLU 450/100 SC, ZAMPRO 525 SC dan lain sebagainya. Contoh produk WSC: Manuver 400 WSC, dan Agrogibb 40 WSC.
  • SL (Soluble Liquid) dan L (Liquid): Merupakan formulasi berbentuk pekatan yang bisa larut dalam air, jika dicampur dengan air akan membentuk larutan. Cara aplikasinya dengan cara disemprotkan. Contoh produk yang bisa Anda jumpai termasuk Spontan 400 SL, CRASH 160 SL, SISTEMIK 240 SL, SOFFELL 130 SL, dan lain sebagainya. Tidak seperti formulasi EC yang ketika dituangkan ke dalam air, maka air akan menjadi putih keruh seperti cairan susu, sedangkan formulasi SL jika dituangkan ke dalam air akan larut, terlihat transparan tidak ada perubahan yang mencolok pada air tersebut. Di kalangan pembudidaya tanaman, ada perasaan kurang pas jika larutan semprot tidak putih-keruh.
  • AS (Aquaeous Solution) dan AC (Aquaeous Concentrate): AS dan AC merupakan larutan pekat yang dapat dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasikan dalam bentuk AS dan AC biasanya berupa pestisida berbahan aktif dalam bentuk garam yang memiliki kelarutan tinggi di dalam air. Cara aplikasinya dengan cara disemprotkan. Contoh produknya adalah Agrifos 400 AS.
  • F (Flowable), FW (Flowable in Water) dan FS (Flowable Suspension): Formulasi F, FS atau FW merupakan konsentrat cair yang sangat pekat hampir seperti pasta, namun masih bisa dituangkan. Jika dicampur air, akan membentuk suspensi (partikel padat yang melayang dalam media cair). Lantaran bentuknya seperti pasta, tentu perlu pengadukan yang terus-menerus supaya tidak mengendap. Apabila sudah tersimpan terlalu lama, produk pestisida formulasi F kemungkinan akan memadat. Contoh produk yang cukup familiar adalah PRONTO 600 FS.
  iPhone 15 Series Bawa Desain Anyar, Tanpa Tombol Fisik di Bodi?

Formulasi Pestisida Berbentuk Padat

  • D (Dust ): Merupakan formulasi berbentuk debu/tepung yang siap pakai, dalam aplikasinya tidak perlu dicampur dengan air. Ukuran partikelnya sangat kecil 10-30 mikron dengan konsentrasi bahan aktif rendah sekitar 2%. Cara penggunaannya yakni dengan dihembuskan (dusting) dengan alat tertentu. Contoh produk: PARIGEN 0,5 D.
  • GR (Granula): Merupakan formulasi berbentuk butiran padat dengan ukuran seragam. GR umumnya merupakan produk yang siap pakai dengan cara ditaburkan. Kandungan bahan aktifnya relatif rendah sekitar 3%. Contoh produk dipasaran diantaranya Furadan 3 GR, SOFATAN 3 GR, dsb.
  • Umpan (Bait, B) atau Ready Mix Bait (RB atau RMB): Adalah bentuk sediaan yang banyak digunakan dalam formulasi rodentisida untuk mengendalikan binatang besar seperti tikus, babi hutan, dan tupai. Formulasi RB/RMB siap guna (telah dicampurkan dengan pakan) sementara formulasi B harus dicampur sendiri oleh penggunanya contohnya dengan beras. Contoh produk yang banyak dipakai adalah COPTON 0,5 RB.
  • BB (Block Bait): Merupakan formulasi berbentuk blok berupa umpan siap pakai. Contoh produknya yaitu KLERAT 0,005 BB, KRESNAKUM 0,005 BB, CONTRAC 0,005 BB, dan lain sebagainya.
  • WG, WDG (Water Dispersible Granule) dan SG (Soluble Granule): Formulasi WG dan WDG memiliki bentuk berupa butiran berbentuk butiran halus (micro granule) seperti formulasi G, namun kandungan bahan aktifnya relatif lebih tinggi dan dalam penggunaannya harus diencerkan terlebih dahulu dengan air, diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Sedangkan formulasi SG bedanya jika dicampur dengan air akan membentuk larutan sempurna. Bersifat kurang stabil (mudah mengendap), sehingga harus sering diaduk/dikocok secara teratur pada saat pemakaian. Contoh produk yang bisa Anda jumpai diantaranya GARDENER 68 WG, WIN 20 WG, ZEERON 20 WG, SOYATIP 67 WG, Ally 20 WDG, dll. Sedangkan formulasi SG bedanya jika dicampur dengan air akan membentuk larutan sempurna. Contoh produk: Proclaim 5 SG, dan lain sebagainya.
  • WP (Werrable Powder): Merupakan formulasi berbentuk tepung dengan ukuran partikel sangat kecil (satuan mikron) dan mengandung bahan aktif yang relatif tinggi hingga 80%. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan, jika dicampur dengan air akan membentuk suspensi, dan perlu pengadukan yang lebih lama supaya dapat tercampur dengan air. Contoh produk diantaranya adalah CONFIDOR 5 WP, AVIDOR 25 WP, APPLAUD 10 WP, ANTRACOL 70 WP, dsb.
  • SP (Soluble Powder): Yaitu formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur dengan air akan membentuk larutan homogen. Digunakan dengan cara disemprotkan. Contoh produk ini antara lain ZIDAN 50 SP, dan PROTHENE 75 SP.
  • SD (Seed Dressing): Yaitu formulasi khusus dengan bentuk seperti tepung yang digunakan dalam perawatan benih. Produk Saromyl 35 SD merupakan salah satu contohnya.
  Cara Melihat Gerhana Bulan Total Terakhir sampai 2025

Formulasi Pestisida Khusus

  • MC (Moisture Content): Yaitu sebuah formulasi padatan lingkar, contohnya adalah ZEBRA 0,30 MC, artinya memiliki kandungan bahan aktif esbiotrin sebesar 0,30%. Ada juga COWBRAND 0,30 MC, dll.
  • PA (Pasta): Merupakan formulasi dengan bentuk pasta. Contoh produk antara lain CP 150 PA, PROTHEPHON 10 PA, dan lain sebagainya.
  • LT (Lotion): Yaitu formulasi berbentuk losion. Contoh produk: SLEEK ANTI MOSQUITO 12,5 LT, SOFFELL 13 LT, dan sebagainya.
  • CS (Capsulated Suspension): Merupakan formulasi berbentuk mikro kapsul dalam pekatan yang dapat disuspensikan. Contoh produk yang bisa Anda temukan adalah DEMAND 100 CS.
  • OD (Oil Disoersion): Yaitu formulasi berbentuk larutan dalam minyak. Contoh produknya adalah CORNELIA 265/35 OD.
  • DF (Dispersion flowable): Merupakan formulasi berbentuk butiran yang dapat didispersikan dalam air. Contoh produknya seperti SPADA 60 DF.
  • TB (Tablet): Yaitu formulasi dalam bentuk tablet. Contohnya antara lain KINGPHOS 56 TB, HELLIPHOS 56 TB, HARVESTPHOS 56 TB, GIBGRO 20 TB, GIBBERSIPP 20 TB, GAPLUS 20 TB, dan lain sebagainya.
  • ULV (Ultra Low Volume): Merupakan formulasi berbentuk cair, bahan aktif yang dikandung sangat tinggi, dirancang untuk penyemprotan dengan menggunakan alat khusus dan tanpa dilarutkan menggunakan air.
  • LV (Liquid volatile): Adalah pestisida rumah tangga racun pernafasan berbentuk larutan yang dapat diuapkan. Contoh produk yang sering digunakan adalah Baygon 13 LV.

Demikian penjelasan mengenai formulasi pestisida yang tentunya cukup penting untuk diketahui, khususnya bagi Anda yang berkecimpung di dunia budidaya tanaman.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, singkatan EC adalah formulasi yang memiliki bentuk pekatan yang dapat diemulsikan. Dan sekarang Anda pun telah mengetahui apa perbedaan EC, SC, WP, dan formulasi pestisida yang lainnya.

Leave a Reply